Iket atau totopong (Sunda) atau udeng (Bali)
adalah penutup kepala dari kain merupakan bagian dari kelengkapan
sehari-hari pria di pulau Jawa dan Bali, sejak masa silam sampai sekitar
awal tahun 1900-an
dan mulai populer kembali pada tahun 2013. Penggunaan iket bagi pria
akil balik pada masa lalu menjadi keharusan karena dipercaya melindungi
mereka dari roh-roh jahat, selain untuk fungsi-fungsi praktis seperti wadah /pembungkus, selimut, bantalan untuk mengangkut beban di kepala dsb, sedangkan saat ini lebih diperuntukkan sebagai aksesoris dan upaya melestarikan budayaCara Memakai Iket Gaya Sunda(diakses 31 Oktober 2011).
Di Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda, tutup kepala yang dibuat
dari kain dikenal dengan sebutan iket atau totopong atau udeng, semuanya
adalah pelindung kepala yang berfungsi sebagai kelengkapan berbusana.
Di samping itu ada pula dudukuy yaitu tutup kepala yang terbuat dari
tumbuh-tumbuhan seperti bambu, kayu dan daun yang hanya berfungsi
sebagai pelindung kepala dari panas dan hujan.
Pada zaman dahulu iket juga mencerminkan kelas dalam masyarakat,
hingga tampak jelas perbedaan kedudukan seseorang (pria) dalam kehidupan
sehari-hari. Di samping itu iket Sunda juga sebagai bagian dari
kelengkapan berbusana yang digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan
budaya yang dikaitkan dengan nilai budaya, adat istiadat serta pandangan
hidup masyarakat.
Makna Iket Sunda Pada mulanya kata iket merupakan kata umum yang
artinya ikat atau ikatan. Akan tetapi karena sesuatu yang diikatnya itu
kepala (pria) dan berlangsung saat dangdan atau dangdos atau berdandan
akhirnya kata iket itu menjadi kata khusus atau istilah yang mengandung
pengertian ikat kepala.
Iket dipandang dan dianggap tepat sebagai benda yang dapat melindungi
kepala saat melakukan aktifitas dan sekaligus menjadi atribut sosial.
Bentuknya yang beragam diciptakan sebagai simbol yang berkaitan dengan
keagamaan, upacara adat, dan status sosial tokoh-tokoh masyarakat yang
dianggap mempunyai peranan dalam suatu kelembagaan
Iket berpadanan kata dengan totopong dan udeng (bahasa Sunda halus).
Di-totopong berarti mengenakan tutup kepala menurut aturan tertentu.
Bentuk totopong itu ada yang disebut Bendo, Porténg, Lohén, Barangbang
Semplak atau Mantokan, Kuda Ngencar dan Paros Nangka atau Kebo Modol”.
Iket sebagai bagian dari kelengkapan anggoan pameget (busana pria)
memiliki nilai estetik tinggi. Iket sebagai tutup kepala memiliki nilai
yang lebih berharga dibandingkan dengan tutup kepala yang lain, karena
dalam proses pembentukannyamemerlukan kejelian, keterampilan, ketekunan,
kesabaran dan rasa estetika yang tinggi dari pemakainya. Hal ini akan
membuktikan bahwa iket dapat mencerminkan status simbol pemakainya.
Selain itu iket juga memiliki makna secara ilmu pengetahuan dan
kepercayaan,iket sangat erat kaitannya dengan unsur tauhid dan budaya.
Iket memiliki makna mengikat seperti ikatan yang terbentuk dari tali.
Iket juga berarti totopong yang berasal dari kata tepung (bertemu) yang
mengalami pengulangan dan perubahan kata dasar te menjadi toto. Tepung
artinya bertemu, bertemu dalam hal ini maksudnya simbol dari bertemunya
ujung kain karena dibentuk simpul sebagai lambang silaturahmi. Iket
mengandung makna mengikat kepala. Obyek yang diikat adalah kepala
(pria). Kepala memiliki makna sebagai pemimpin tubuh dengan isinya yaitu
otak. Otak merupakan tempat pikiran dan organ manusia sebagai ciri
manusia makhluk mulia ciptaan Tuhan. Dengan otak ini manusia memiliki
cipta, karsa, rasa sehingga mampu berpikir. Dengan memakai iket, kepala
sebagai organ penting dapat dilindungi.
Iket dibentuk dari kain berbentuk bujur sangkar yang memiliki empat
sudut. Keempat sudut itu memiliki makna sebagai sudut kereteg haté
(kereteg = perasaan atau suara yang timbul dengan sendirinya, haté =
hati. kereteg haté diartikan sebagai niat), ucapan (lisan), tingkah
(sikap), dan raga (badan) yang kemudian kain itu dilipat dua membentuk
segitiga sama kaki dengan tiga sudut. Ketiga sudut tersebut mencerminkan
tiga azas tritunggal kesetaraan dalam hidup kemasyarakatan yakni
tritangtu yang terdiri dari resi pemimpin agama, rama (pemimpin rakyat)
dan perebu (pemimpin wilayah).
Diharapkan azas ini dijalankan dengan keharmonisan antara tekad,
ucapan, tingkah laku yang terangkum dalam raga manusia. Iket juga
memiliki makna ngawengku (mengikat) segala urusan yang berhubungan
dengan keduniawian seperti yang disampaikan bahwa iket digunakan oleh
para Saéhu. Saéhu adalah seorang pemimpin rakyat yang saé jadi hulu, saé
hubungannana, tiasa ngiket kana sagala persoalan kamasyarakatan jeung
kahirupan (bagus untuk dijadikan ketua atau pemimpin, bagus hubungan
sosialnya, mampu mempersatukan dan menyelesaikan
Iket Sunda pada masa dahulu merupakan salah satu kelengkapan busana
pria yang sangat penting. Penggunaan iket bagi masyarakat Sunda
berfungsi sebagai: a. Penutup rambut. b. Pelindung kepala. c. Alat untuk
melindungi diri. d. Alat untuk membawa barang. e. Alat untuk menyimpan
barang. f. Sebagai sajadah pada saat melaksanakan sholat lima waktu g.
Simbol status sosial pria atau sebagai simbol yang menunjukkan identitas
dalam lingkungan pergaulan sehari-hari. Simbol ini ditunjukkan melalui
model dan jenis kain yang digunakan untuk iket. h. Penghormatan terhadap
kedudukan seorang pria seperti digunakan apabila menghadap priyayi,
pejabat pemerintah setempat dan ulama.
Dewasa ini fungsi iket Sunda secara umum sebagai: a. Salah satu
penanda etnis Sunda. b. Penanda etnis Sunda pada busana adat. c. Penanda
etnis Sunda pada busana tari pertunjukan.
Terdapat perbedaan model iket untuk di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ada beberapa model iket yang diberi nama-nama seperti barangbang semplak, parekos, atau porteng.
Sabtu, 15 Februari 2014
Senin, 11 Maret 2013
UJIAN
"Mah, du'akeun nya! Dinten ieu Ina bade ujian Fisika Optika. Tapi Ina teu acan ngapalkeun. Du'akeun we nya!" Ina nyarios bari sun tangan ka mamahna.
"Ku naon atuh teu diajar? Padahal mamah tos ngagugahkeun Ina ti Subuh. Kalakah bobo deui geura!" ceuk mamah.
"Atuh da. Ina teh kamari cape pisan. Jadi we bobona tibra. Hehe." waler Ina.
"Nya sok atuh jung berangkat! bisi kasiangan!"
"Muhun, Mah! Assalamu'alaikum!"
Ina ngabuka pager teras geura nyetop angkot. Dinten ieu teh, Ina sareng rerencangan sakelasna bade ujian Fisika. Ina ngandelkeun pisan kamampuan logikana ku margi da teu acan diajar.
Waktos dugi ka kelas, Ina ningal rerencangannana nuju diajar rame-rame. Basa Ina bade ngiluan, Pak Arfi, guru Fisika, lebet ka kelas. Barudak sakelas langsung paranik. Tapi Pak Arfi kalakah gumujeng bae.
"Barudak, ku margi bapana aya urusan, janten ayeuna teu ujian Fisika. Nu matak kitu, ujiannana diundur dugi ka Rabu."
"YEEEEEEE!!!!"
Ina ngarasa lega pisan. Untung we ujiannana diundur da Ina teu acan diajar pisan.
Di bumi, Ina ngomongkeun eta kabungah ka mamahna.
"Mah, ujian Fisikana teu janten!!"
"Alhamdulillah atuh!" ceuk mamahna.
Minggon payunna, Ina ujian deui. Tapi nu ieu mah jian Matematika. Sami siga kajadian ujian Fisika, Ina teu acan ngapalkeun. Untungna deui, ujiannana teu jadi. Dugi ka minggon katilu, kajadian siga kieu tos aya opat kali.
"Na, untung pisanlah maneh mah! Tiap-tiap ujian, maneh mah tara diajar. Tapi anehna ujianna teu jadi." ceuk Aldi, hiji waktu di kelas.
"Nya abdi ge teu terang atuh naha bisa kitu. Meureun we Dewi Fortuna nuju resep ka abdi. Hehe." waler Ina.
Minggon kaopat, Ina aya ujian Biologi. Ku lantaran kamari-kamari sok tara diajar teras ujianna teu janten wae, Ina jadi ngarasa males. Dina hatena, Ah, bae we lahteu diajar oge. Palingan teu jadi deui ujianna.
Enjingna, Bu Wati, Guru Biologi, lebet ka kelas. Teras ngabagikeun kertas soal.
Alah kumahanya. Ina teu acan ngapalkeun. Aduuh...
Salama ujian, Ina panik pisan. Ahirna waktosna se'ep. Ina kedah ngempelkeun kertas ujianna. Padahal kosong keneh.
"Tuh Ina! Maneh teh rajin diajar atuh! Abong-abong kamari tos opat kali beruntung jadi teu diajar. Ujian teu ujian, maneh kudu diajar di imah. Kumaha sih?" ceuk Aldi.
Ina isin pisan. Dina hatena Ina janji bakal rajin diajar, UJIAN TEU UJIAN!
one direction
Liam Payne:
Hey girl, I'm waitin' on ya, I'm waitin' on ya
Come on and let me sneak you out
And have a celebration, a celebration
The music up, the window's down
Zayn Malik:
Yeah, we'll be doing what we do
Just pretending that we're cool
And we know it too
Yeah, we'll keep doing what we do
Just pretending that we're cool
'Cause tonight
Chorus:
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Oh oh oh oh
Oh oh oh oh
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Tonight let's get some
Harry Styles:
And live while we're young
Zayn Malik:
Hey girl, it's now or never, it's now or never
Don't over-think, just let it go
And if we get together, yeah, get together
Don't let the pictures leave your phone, ohhhh
Niall Horan:
Yeah, we'll be doing what we do
Just pretending that we're cool
'Cause tonight
Chorus:
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/o/one_direction/live_while_were_young.html ]
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Woahhhh oh oh oh
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Tonight let's get some
Harry Styles:
And live while we're young
Zayn Malik:
And girl, you and I,
We're 'bout to make some memories tonight
LOUIS TOMLINSON:
I wanna live while we're young
We wanna live while we're young
Chorus:
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Wanna live, wanna live, wanna live
Come on, younnngg
Wanna live, wanna live, wanna live
While we're young
Wanna live, wanna live, wanna live
Hey girl, I'm waitin' on ya, I'm waitin' on ya
Come on and let me sneak you out
And have a celebration, a celebration
The music up, the window's down
Zayn Malik:
Yeah, we'll be doing what we do
Just pretending that we're cool
And we know it too
Yeah, we'll keep doing what we do
Just pretending that we're cool
'Cause tonight
Chorus:
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Oh oh oh oh
Oh oh oh oh
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Tonight let's get some
Harry Styles:
And live while we're young
Zayn Malik:
Hey girl, it's now or never, it's now or never
Don't over-think, just let it go
And if we get together, yeah, get together
Don't let the pictures leave your phone, ohhhh
Niall Horan:
Yeah, we'll be doing what we do
Just pretending that we're cool
'Cause tonight
Chorus:
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/o/one_direction/live_while_were_young.html ]
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Woahhhh oh oh oh
And live while we're young
Woahhh oh oh oh
Tonight let's get some
Harry Styles:
And live while we're young
Zayn Malik:
And girl, you and I,
We're 'bout to make some memories tonight
LOUIS TOMLINSON:
I wanna live while we're young
We wanna live while we're young
Chorus:
Let's go crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Crazy, crazy, crazy till we see the sun
I know we only met but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young
Wanna live, wanna live, wanna live
Come on, younnngg
Wanna live, wanna live, wanna live
While we're young
Wanna live, wanna live, wanna live
SANDI Siliwangi
"SANDI SILIWANGI"
Diposkan oleh
Pengelana Buana Budaya
Lain kula teu miara ka Ki Sunda
Lain kula teu nyiar ka Salira
Lain kula teu mirosea ka Nagara
Lain kula teu walakaya dina Mangsa
Lain kula teu nyatria di medan laga
Lain kula teu nyaah kanu lara
Lain kula teu mercaya kanu kumawula
Lain kula teu bisa mawa balad pakeun jaya
Tapi,
Sandi Sunda kudu nincak dina wayah
Nurut Mangsa sinembah pinasti nu Kawasa
Sabab Jaya lain udagan
Sabab Meunang lain kahayang
Silih Wawangi Kaparamartaan
Walatra papada Manusa Sunda
Lain Sunda sarubak jamang
Sunda sadu santa budi
Sunda Sandi Siliwangi
Sunda Sabuwana
Suci Sabuwana, ngadeg jagat Kamanusan
Minggu, 10 Maret 2013
jaipong
Jaipongan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Musik dari Indonesia | |
|---|---|
Gong dari Jawa |
|
| Garis waktu • Contoh | |
| Ragam | |
| Klasik • Kecak • Kecapi suling • Tembang Sunda • Pop • Dangdut • Hip hop • Keroncong • Gambang keromong • Gambus • Jaipongan • Langgam Jawa • Pop Batak • Pop Minang • Pop Sunda • Qasidah modern • Rock • Tapanuli ogong • Tembang Jawa | |
| Bentuk tertentu | |
| Angklung • Beleganjur • Calung • Gamelan • Degung • Gambang • Gong gede • Gong kebyar • Jegog • Joged bumbung • Salendro • Selunding • Semar pegulingan | |
| Musik daerah | |
| Bali • Kalimantan • Jawa • Kepulauan Maluku • Papua • Sulawesi • Sumatera • Sunda |
Daftar isi |
Sejarah
Tari ini diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng. Perhatian Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian jaipongan.Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal. Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.
Perkembangan
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
Karinding
arinding, Seni Sunda Unik
HL | 04 May 2010 | 07:20 via Mobile Web
Karinding, Seni Sunda Yang Menggeliat
Pada awalnya saya mengenal alat musik sunda itu, suling, gamelan, calung, angklung dan kendang. Ternyata masih banyak khazanah kesenian dan alat-alat musik sunda yang beredar tetapi tidak terpublikasi dan tidak diajarkan sewaktu sekolah. Namanya Karinding, teman saya punya group musik ‘Karinding Attack” yang underground dan lumayan keren. Karinding sendiri adalah alah yang terbuat dari kayu, ukurannya kecil mungkin sebesar pulpen atau lebih. Dibunyikannya dengan meniup dan menggerakan bagian ujung.
Untuk yang pertama kalinya saya mendengarkan langsung pementasan seni karinding di acara diskusi seni dan lingkungan yang paradoks pada 28 April 2010 di Museum Barli, Bandung. Dua kelompok seni karinding yang menampilkan dan membuat saya takjub. Keduanya memberikan saya fenomena baru dalam dunia musik tradisional.
Pada penampil pertama, yang menyajikannya dari Lembang. Saya tidak mencatat namanya, tetapi tahu asal mereka dari Lembang. Penampil pertama ini sangat sunda buhun. Membawa ‘harimau’ dan dupa yang dibakar. Liriknya juga rada-rada kesundaan baheula banget. Sangat tradisional dan sunda pisan. Dandannya jangan ditanya, kalau sunda pisan berarti lengkap antara baju pangsi, iket, kantong yang terbuat dari rami.
Penampil kedua dari Mahasiswa, uniknya ada perempuan dan tambahan alat musik yang ditiup yaitu suling dan satu lagi saya tidak tahu namanya, yang pasti seperti alat musik yang bisa menirukan bunyi burung berkicau, kalau ke Taman Wisata Alam Tangkubanparahau banyak penjualnya.
Kelompok Karinding sekarang semakin bertebaran. Saya ingat bahwa Dadang Hermawan yang terkenal dengan nama Utun, ketua FK3I Jabar, tokoh gerakan lingkungan dan seni sunda membawa Karinding pada ranah musik alternatif. Dengan kelompoknya bernama ‘Karinding Attack‘, Dadang sudah tampil dibeberapa even musik di Kota Bandung. Salahsatunya ketika pergelaran musik Underground, ‘karinding attack’ menyerang dari sisi lain. Ditengah musik-musik cadas, karinding attack muncul. Saya salut pada perjuangan Dadang ‘utun’ dalam mengkampanyekan seni sunda, kearifan lingkungan. Maju terus, Karinding! Yuuu mari kita ngarinding bareng!
Pada awalnya saya mengenal alat musik sunda itu, suling, gamelan, calung, angklung dan kendang. Ternyata masih banyak khazanah kesenian dan alat-alat musik sunda yang beredar tetapi tidak terpublikasi dan tidak diajarkan sewaktu sekolah. Namanya Karinding, teman saya punya group musik ‘Karinding Attack” yang underground dan lumayan keren. Karinding sendiri adalah alah yang terbuat dari kayu, ukurannya kecil mungkin sebesar pulpen atau lebih. Dibunyikannya dengan meniup dan menggerakan bagian ujung.
Untuk yang pertama kalinya saya mendengarkan langsung pementasan seni karinding di acara diskusi seni dan lingkungan yang paradoks pada 28 April 2010 di Museum Barli, Bandung. Dua kelompok seni karinding yang menampilkan dan membuat saya takjub. Keduanya memberikan saya fenomena baru dalam dunia musik tradisional.
Pada penampil pertama, yang menyajikannya dari Lembang. Saya tidak mencatat namanya, tetapi tahu asal mereka dari Lembang. Penampil pertama ini sangat sunda buhun. Membawa ‘harimau’ dan dupa yang dibakar. Liriknya juga rada-rada kesundaan baheula banget. Sangat tradisional dan sunda pisan. Dandannya jangan ditanya, kalau sunda pisan berarti lengkap antara baju pangsi, iket, kantong yang terbuat dari rami.
Penampil kedua dari Mahasiswa, uniknya ada perempuan dan tambahan alat musik yang ditiup yaitu suling dan satu lagi saya tidak tahu namanya, yang pasti seperti alat musik yang bisa menirukan bunyi burung berkicau, kalau ke Taman Wisata Alam Tangkubanparahau banyak penjualnya.
Kelompok Karinding sekarang semakin bertebaran. Saya ingat bahwa Dadang Hermawan yang terkenal dengan nama Utun, ketua FK3I Jabar, tokoh gerakan lingkungan dan seni sunda membawa Karinding pada ranah musik alternatif. Dengan kelompoknya bernama ‘Karinding Attack‘, Dadang sudah tampil dibeberapa even musik di Kota Bandung. Salahsatunya ketika pergelaran musik Underground, ‘karinding attack’ menyerang dari sisi lain. Ditengah musik-musik cadas, karinding attack muncul. Saya salut pada perjuangan Dadang ‘utun’ dalam mengkampanyekan seni sunda, kearifan lingkungan. Maju terus, Karinding! Yuuu mari kita ngarinding bareng!
Jenis gamelan dalam sunda (degung)
Jenis Gamelan Dalam Seni Sunda Terutama Degung
Ada gamelan yang sudah lama terlupakan yaitu KOROMONG yang ada di Kp. Lamajang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Gamelan ini sudah tidak dimainkan sejak kira-kira 35 – 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup untuk menabuhnya karena gamelan KOROMONG ini dianggap mempunyai nilai mistis. Gamelan KOROMONG ini sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik. Untuk supaya gamelan KOROMONG ini dapat ditabuh, maka kata yang memegang dan merawat gamelan tersebut harus dibuat Duplikatnya.
Menyimak Sejarah Degung
Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.
Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.
Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).
Langganan:
Postingan (Atom)